Suku Betawi adalah sebuah
suku bangsa di Indonesia yang penduduknya umumnya bertempat tinggal di Jakarta. Sejumlah pihak
berpendapat bahwa Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawinantaretnis dan
bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi
adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan
oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi
sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari
perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta,
seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, Melayu dan
Tionghoa.
Namun pihak lain
berpendapat bahwa Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan
bangsa pada masa lalu ternyata tidak sepenuhnya benar karena eksistensi suku
Betawi menurut sejarawan Sagiman MD telah ada serta mendiami Jakarta dan
sekitarnya sejak zaman batu baru atau pada zaman Neoliticum, penduduk asli
Betawi adalah penduduk Nusa Jawa sebagaimana orang Sunda, Jawa, dan Mad
ura. Pendapat Sagiman MD tersebut senada dengan Uka Tjandarasasmita yang mengeluarkan monografinya "Jakarta Raya dan Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan Pajajaran mengungkapkan bahwa Penduduk Asli Jakarta telah ada pada sekitar tahun 3500 - 3000 sebelum masehi.
ura. Pendapat Sagiman MD tersebut senada dengan Uka Tjandarasasmita yang mengeluarkan monografinya "Jakarta Raya dan Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan Pajajaran mengungkapkan bahwa Penduduk Asli Jakarta telah ada pada sekitar tahun 3500 - 3000 sebelum masehi.
Namun menurut sebagian
Peneliti yang sepaham dengan Lance Castles yang pernah meneliti tentang
Penduduk Jakarta dimana Jurnal Penelitiannya diterbitkan tahun 1967 oleh
Cornell University dikatakan bahwa secara biologis, mereka yang mengaku sebagai
orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang
didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai
kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang
Sunda, Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, dan Melayu serta suku-suku
pendatang, seperti Arab, India, Tionghoa, dan Eropa.
·
Sejarah
Suku Betawi Jakarta
Kata Betawi digunakan
untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa Melayu Kreol yang
digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi sebenarnya berasal
dari kata “Batavia”, yaitu nama kuno Jakarta yang diberikan oleh
Belanda.
Diawali oleh orang Sunda
(mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta
kemudian Pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan
pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari
Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.
Antropolog Universitas
Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA memperkirakan, etnis Betawi baru
terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan
atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan
Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan
sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data
sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai
golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.
Rumah Bugis di bagian
utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada
awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota.
Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang
sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Jawa dan Sunda, orang
Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu.
Sifat campur-aduk dalam
dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang
merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari
daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian,
misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni
musik Tiongkok, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab,
Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab dan Tanjidor yang berlatar
belakang ke-Belanda-an. Secara
biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum
berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin
antaretnis dan bangsa di masa lalu.
·
Terbentuknya
Kebudayaan Suku Betawi Jakarta
Kebudayaan suku Betawi
merupakan kebudayaan asli kota Jakarta. Kebudayaan suku Betawi terbentuk akibat
akulturasi (pencampuran) berbagai kebudayaan yang telah ada sebelumnya. Karena
sikap keterbukaan orang Betawi dan penghargaan tinggi terhadap perbedaan juga
turut mempercepat akulturasi tersebut. Karena akulturasi itu, kebudayaan suku
Betawi dapat dikelompokkan berdasarkan pengaruh kebudayaan-kebudayaan asal yang
membentuknya, yaitu :
1.
Kebudayaan
yang terbentuk karena pengaruh kebudayaan Arab dan Melayu, seperti alat musik
Samrah, Rebana dan Marawis.
2.
Kebudayaan
yang terbentuk karena pengaruh kebudayaan Cina, seperti tari Yapong, Lenong,
tari Cokek, Gambang Kromong, dan Topeng Betawi.
3.
Kebudayaan
yang terbentuk karena pengaruh kebudayaan Portugis dan Belanda, seperti
Keroncong Tugu dan Tanjidor.
Kebudayaan suku Betawi
bisa jadi menjadi kebudayaan terkaya di Indonesia. Mengingat akulturasi pada
suku ini sangat banyak. Tidak mengherankan jika kebudayaan suku Betawi dapat
menarik minat pendatang untuk tinggal di Jakarta untuk berlangsungnya
kebudayaan Betawi secara turun-temurun.
·
Seni
dan kebudayaan
Seni dan Budaya asli
Penduduk Jakarta atau Betawi dapat dilihat dari temuan arkeologis, semisal
giwang-giwang yang ditemukan dalam penggalian di Babelan, Kabupaten Bekasi yang
berasal dari abad ke 11 masehi. Selain itu budaya Betawi juga terjadi dari
proses campuran budaya antara suku asli dengan dari beragam etnis pendatang
atau yang biasa dikenal dengan istilah Mestizo . Sejak zaman dahulu, wilayah
bekas kerajaan Salakanagara atau kemudian dikenal dengan "Kalapa"
(Sekarang Jakarta) merupakan wilayah yang menarik pendatang dari dalam dan luar
Nusantara, Percampuran budaya juga datang pada masa Kepemimpinan Raja
Pajajaran, Prabu Surawisesa dimana Prabu Surawisesa mengadakan perjanjian
dengan Portugal dan dari hasil percampuran budaya antara Penduduk asli dan
Portugal inilah lahir Keroncong Tugu.
Suku-suku yang mendiami
Jakarta sekarang antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain
dari penduduk Nusantara, budaya Betawi juga banyak menyerap dari budaya luar,
seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.
Suku Betawi sebagai
penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar
dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan
provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari
Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah
cagar budaya di Situ Babakan.
·
Bahasa
Sifat campur-aduk dalam
dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang
merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari
daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.
Ada juga yang berpendapat
bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar "Kalapa" (sekarang
Jakarta) juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut
sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura, pernah diserang dan
ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran
kalau penduduk asli Betawi yang pada awalnya berbahasa Kawi dan mendiami daerah
sekitar pelabuhan Sunda Kalapa (jauh sebelum Sumpah Pemuda) sudah menggunakan
bahasa Melayu, bahkan ada juga yang mengatakan suku lainnya semisal suku Sunda
yang mendiami wilayah inipun juga ikut menggunakan Bahasa Melayu yang umum
digunakan di Sumatera dan Kalimantan Barat, penggunaan bahasa ini dikarenakan
semakin banyaknya pendatang dari wilayah Melayu lainnya semisal Kalimantan
Barat dikarenakan dianggap abainya Syailendra ketika dimintai tolong oleh
Sriwijaya untuk menjaga wilayah perairan laut sebelah barat Sungai Cimanuk
sebagai hasil Perjanjian Damai Sriwijaya - Kediri yang dimediasi oleh China
yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.
Karena perbedaan bahasa
yang digunakan antara suku Betawi dengan suku Sunda diwilayah lainnya tersebut
maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar
Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai
etnis Betawi. Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang
masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran,
Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah
menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai
dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik yang saat ini
disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.
Meskipun bahasa formal
yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa
percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi. Dialek Betawi
sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu dialek Betawi tengah dan dialek Betawi pinggir.
Dialek Betawi tengah umumnya berbunyi "é" sedangkan dialek Betawi
pinggir adalah "a". Dialek Betawi pusat atau tengah seringkali
dianggap sebagai dialek Betawi sejati, karena berasal dari tempat bermulanya
kota Jakarta, yakni daerah perkampungan Betawi di sekitar Jakarta Kota, Sawah
Besar, Tugu, Cilincing, Kemayoran, Senen, Kramat, hingga batas paling selatan
di Meester (Jatinegara). Dialek Betawi pinggiran mulai dari Jatinegara ke
Selatan, Condet, Jagakarsa, Depok, Rawa Belong, Ciputat hingga ke pinggir
selatan hingga Jawa Barat. Contoh penutur dialek Betawi tengah adalah Benyamin
S, Ida Royani dan Aminah Cendrakasih, karena mereka memang berasal dari daerah
Kemayoran dan Kramat Sentiong. Sedangkan contoh penutur dialek Betawi pinggiran
adalah Mandra dan Pak Tile. Contoh paling jelas adalah saat mereka mengucapkan
kenape/kenapa'' (mengapa). Dialek Betawi tengah jelas menyebutkan
"é", sedangkan Betawi pinggir bernada "a" keras mati
seperti "ain" mati dalam cara baca mengaji Al Quran.
·
Musik
Dalam bidang kesenian,
misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni
musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab,
Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang
berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni
Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong. Betawi juga memiliki
lagu tradisional seperti "Kicir-kicir".
·
Tari
Seni tari di Jakarta
merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya masyarakat yang ada di dalamnya.
Contohnya tari Topeng Betawi, Yapong yang dipengaruhi tari Jaipong Sunda, Cokek
dan lain-lain. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan
Tiongkok, seperti tari Yapong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing.
Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama
juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis.
·
Drama
Drama tradisional Betawi
antara lain Lenong dan Tonil. Pementasan lakon tradisional ini biasanya
menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Betawi, dengan diselingi lagu,
pantun, lawak, dan lelucon jenaka. Kadang-kadang pemeran lenong dapat
berinteraksi langsung dengan penonton.
·
Cerita
rakyat
Cerita rakyat yang
berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si
Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si
jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun
kehidupannya yang dikenal "keras". Selain mengisahkan jawara atau
pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan
kehidupan zaman kolonial. cerita lainnya ialah Mirah dari Marunda, Murtado
Macan Kemayoran, Juragan Boing dan yang lainnya.
·
Senjata
tradisional
Senjata khas Jakarta
adalah bendo atau golok yang bersarungkan terbuat dari kayu.
·
Rumah
tradisional
Rumah tradisional/adat
Betawi adalah rumah kebaya.
·
Kepercayaan
Sebagian besar Orang
Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan
Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang
beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran
antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad
ke-16, Surawisesa, raja Pajajaran mengadakan perjanjian dengan Portugis yang
membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa
sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini
sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.
·
Profesi
Di Jakarta, orang Betawi
sekarang sebagai hasil asimilasi antar suku bangsa, sebelum era pembangunan
orde baru, terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung)
mereka masing-masing. Semisal di kampung Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong
banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kemboja jepang, dan lain-lain).
Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik semisal K.H.
Djunaedi, K.H. Suit, dll. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh
kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan.
Kampung yang sekarang
lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak sapi perah. Kampung
Kemandoran di mana tanah tidak sesubur Kemanggisan. Mandor, bek, jagoan silat
banyak di jumpai disana semisal Ji'ih teman seperjuangan Pitung dari
Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak
zaman Belanda dulu, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan.
Guru, pengajar, ustadz, dan profesi pedagang eceran juga kerap dilakoni.
Warga Tebet aslinya
adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu program Ganefo yang
dicetuskan oleh Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan
sekitarnya untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks olahraga
Gelora Bung Karno yang kita kenal sekarang ini. Karena salah satu asal-muasal
berkembangnya suku Betawi adalah dari asimilasi (orang Nusantara, Tionghoa,
India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing kaum
disesuaikan pada cara pandang etnis dan bauran etnis dasar masing-masing.
·
Perilaku
dan sifat
Asumsi kebanyakan orang
tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi,
pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil.
Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, dan Fauzi
Bowo Gubernur DKI Jakarta.
Ada beberapa hal yang
positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun
kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius.
Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran
orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi
sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara
masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.
Orang Betawi sangat
menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga
yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa
seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain. Memang tidak bisa
dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa kini agak
terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta).
Namun tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru
akan menopang modernisasi tersebut.
·
Tradisi
masyarakat betawi
Tradisi
Meriah
Meriah dan penuh
warna-warni, demikian gambaran dari tradisi pernikahan adat Betawi. Diiringi
suara petasan, rombongan keluarga mempelai pria berjalan memasuki depan rumah
kediaman mempelai wanita sambil diiringi oleh ondel-ondel, tanjidor serta
marawis (rombongan pemain rebana menggunakan bahasa arab). Mempelai pria
berjalan sambil menuntun kambing yang merupakan ciri khas keluarga betawi dari
Tanah Abang.
Sesampainya didepan rumah
terlebih dulu diadakan prosesi “Buka Palang Pintu”, berupa berbalas pantun dan
Adu Silat antara wakil dari keluarga pria dan wakil dari keluarga wanita.
Prosesi tersebut dimaksudkan sebagai ujian bagi mempelai pria sebelum diterima
sebagai calon suami yang akan menjadi pelindung bagi mempelai wanita sang
pujaan hati. Uniknya, dalam setiap petarungan silat, pihak mempelai wanita
pasti dikalahkan oleh jagoan calon pengantin pria.
·
Prosesi
Akad Nikah
Pada saat akad nikah,
rombongan mempelai pria memberikan hantaran berupa :
-
Sirih,
gambir, pala, kapur dan pinang artinya segala pahit, getir, dan manisnya
kehidupan rumah tangga harus dijalani bersama antara suami dan istri.
-
Maket Mesjid, maksudnya adalah agar mempelai
wanita tidak lupa akan kewajibannya kepada agama dan harus menjalani shalat
serta mengaji.
-
Kekudung,
berupa barang kesukaan mempelai wanita misalnya salak condet, jamblang, dan
sebagainya.
-
Mahar
atau mas kawin dari pihak pria untuk diberikan kepada mempelai wanita.
-
Pesalinan
berupa pakaian wanita seperti kebaya encim, kain batik, kosmetik, sepasang roti
buaya. Buaya merupakan pasangan yang abadi dan tidak berpoligami serta selalu
mencari makan bersama-sama.
-
Petise
yang berisi sayur mayur atau bahan mentah untuk pesta, misal : wortel, kentang,
bihun, buncis dan sebagainya.
Acara berlanjut dengan
pelaksanaan akad nikah. Yang kemudian dilanjutkan dengan penjemputan pengantin
wanita. Selanjutnya, kedua pengantin dinaikkan ke dalam sebuah delman yang
sudah dihias dengan masing-masing seorang pengiring. Delman tersebut ditutupi
dengan kain pelekat hitam sehingga tidak kelihatan dari luar. Akan tetapi,
dengan kain pelekat hitam yang ditempelkan pada delman, maka orang-orang
mengetahui bahwa ada pengantin yang akan pergi ke penghulu.
·
Pernikahan
Pada hari pesta
pernikahan, baik pengantin pria maupun pengantin wanita, mengenakan pakaian
kebesaran pengantin dan dihias. Dari gaya pakaian pengantin Betawi, ada dua
budaya asing yang melekat dalam prosesi pernikahan. Pengantin pria dipengaruhi
budaya Arab. Sedangkan busana pengantin wanita dipengaruhi adat Tionghoa.
Demikian pula dengan musik yang meramaikan pesta pernikahan.
Sumber : https://sites.google.com/site/fahrudinfarie25/team-sponsors
http://indragunawan0605.wordpress.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar